anaksmanda.com - beberapa tahun lalu, AMP blog sempat menjadi tren besar di kalangan blogger Indonesia. Banyak yang berlomba memasang template AMP karena halaman AMP tampil dengan ikon petir di hasil pencarian Google dan dianggap sebagai kunci agar artikel masuk ke bagian berita utama.
Daftar Isi
Situasinya sekarang sudah berubah cukup jauh. Google tidak lagi memberi perlakuan istimewa untuk AMP, dan ukuran kecepatan halaman kini dinilai lewat Core Web Vitals. Artikel ini menjelaskan apa itu AMP, bagaimana cara kerjanya, apa yang berubah, dan apakah kalian masih perlu memakainya untuk blog di tahun 2026.

Ilustrasi AMP (Accelerated Mobile Pages) untuk blog.
Ringkasan Singkat AMP
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Kepanjangan | Accelerated Mobile Pages |
| Diumumkan | 7 Oktober 2015, dipelopori Google |
| Mulai tampil di Google Search | 24 Februari 2016 |
| Pengelola sekarang | Proyek terbuka di bawah OpenJS Foundation (sejak 2019) |
| Wajib untuk Top Stories? | Tidak lagi, sejak pembaruan Page Experience 2021 |
| Ikon petir AMP di hasil pencarian | Sudah dihapus Google pada 2021 |
| Faktor yang dinilai sekarang | Core Web Vitals dan pengalaman halaman secara umum |
Apa Itu AMP?
AMP adalah framework HTML sumber terbuka untuk membuat halaman web yang ringan dan cepat dimuat, terutama di ponsel. Idenya sederhana: batasi hal-hal yang biasanya membuat halaman lambat, seperti JavaScript buatan sendiri yang berat, lalu ganti dengan komponen siap pakai yang sudah dioptimalkan.
Karena aturannya ketat, halaman AMP harus lolos validasi. Satu kesalahan kecil, misalnya tag yang tidak diizinkan, membuat halaman dianggap tidak valid dan tidak bisa disajikan sebagai halaman AMP.
Tiga Komponen Utama AMP
1. AMP HTML
Ini adalah HTML biasa dengan beberapa batasan dan tag khusus. Contohnya, gambar tidak memakai img biasa, melainkan amp-img yang wajib mencantumkan lebar dan tinggi. CSS juga harus ditulis langsung di dalam halaman dan ukurannya dibatasi.
2. AMP JS
Pustaka JavaScript resmi yang mengatur cara halaman dimuat, misalnya menunda pemuatan gambar yang belum terlihat di layar. Penulis halaman tidak boleh menambahkan JavaScript sembarangan; fitur interaktif harus memakai komponen AMP yang tersedia.
3. AMP Cache
Halaman AMP yang valid bisa disimpan dan disajikan dari cache milik pihak lain, seperti Google AMP Cache. Inilah alasan halaman AMP dari hasil pencarian terasa terbuka hampir seketika: halamannya sudah disiapkan lebih dulu di server Google. Efek sampingnya, alamat yang tampil kadang bukan domain blog kalian sendiri, hal yang dulu sering dikeluhkan pemilik situs.
Apa yang Berubah Sejak 2021?
Perubahan terbesar datang lewat pembaruan Page Experience pada pertengahan 2021. Google menyatakan bahwa format AMP tidak lagi diwajibkan untuk tampil di bagian Top Stories. Halaman biasa pun bisa masuk, selama memenuhi kebijakan Google News. Bersamaan dengan itu, ikon petir AMP di hasil pencarian dihapus.
Sebagai gantinya, Google menilai pengalaman halaman dengan Core Web Vitals, yaitu tiga metrik berikut.
- LCP (Largest Contentful Paint): seberapa cepat elemen terbesar di layar, biasanya gambar utama atau judul, selesai tampil.
- INP (Interaction to Next Paint): seberapa cepat halaman merespons klik atau ketukan. Metrik ini menggantikan FID sejak Maret 2024.
- CLS (Cumulative Layout Shift): seberapa sering tata letak bergeser tiba-tiba saat halaman dimuat.
Perlu dicatat juga, Core Web Vitals hanyalah salah satu dari banyak sinyal. Google berulang kali menegaskan bahwa konten yang relevan dan bermanfaat tetap jauh lebih penting. Halaman yang cepat tetapi isinya tipis tidak akan otomatis naik peringkat. Bahasan lebih luas soal ini ada di artikel tips postingan ramah SEO.
Proyek AMP sendiri tidak dihentikan. Sejak 2019 AMP dikelola di bawah OpenJS Foundation, dan halaman AMP yang valid masih bisa diindeks seperti halaman lain. Hanya saja, minat terhadap AMP menurun drastis setelah keistimewaannya dicabut, dan banyak situs besar beralih kembali ke halaman biasa yang dioptimalkan.
Kelebihan dan Kekurangan AMP untuk Blog
| Kelebihan | Kekurangan |
|---|---|
| Halaman ringan dan konsisten cepat karena aturan ketat | Desain dan fitur terbatas, JavaScript bebas tidak diizinkan |
| Bisa disajikan dari AMP Cache sehingga terasa instan | Harus selalu lolos validasi; satu error bisa merusak versi AMP |
| Cocok untuk situs berita dengan volume artikel tinggi | Tidak lagi memberi keuntungan khusus di Google Search |
| Komponen siap pakai untuk gambar, video, dan iklan | Widget pihak ketiga dan beberapa fitur Blogger sulit dipakai |
| Memaksa kebiasaan baik soal ukuran gambar dan CSS | Perawatan template ganda (AMP dan non-AMP) menambah pekerjaan |
Apakah Blog Blogger Masih Perlu AMP di 2026?
Blogger tidak menyediakan AMP bawaan. Blog yang memakai AMP biasanya menggunakan template khusus yang ditulis ulang agar valid AMP, dan anaksmanda.com pun pernah membahas cara memasang ikon Material Design di blog AMP. Template seperti ini menuntut ketelitian, karena banyak widget dan kode tambahan Blogger tidak bisa langsung dipakai.
Untuk kebanyakan blog pribadi, jawabannya: tidak wajib. Kalian bisa mendapatkan kecepatan yang sangat baik dengan template responsif biasa yang ringan. Pertimbangkan AMP hanya jika kalian sudah memakai template AMP yang stabil dan nilai Core Web Vitals-nya bagus. Dalam kondisi itu, tidak ada alasan mendesak untuk membongkarnya.
Sebaliknya, jika template AMP kalian sering memunculkan error validasi, membatasi pemasangan iklan, atau menyulitkan penambahan fitur, beralih ke template non-AMP yang ringan biasanya lebih masuk akal. Saat melakukan perpindahan, pastikan alamat artikel tidak berubah dan uji hasilnya di Google Search Console.
Alternatif: Membuat Blog Cepat Tanpa AMP
Prinsip yang membuat AMP cepat sebenarnya bisa diterapkan di template biasa. Berikut langkah yang paling berpengaruh.
- Pilih template ringan dan responsif. Hindari template dengan banyak slider, animasi, dan skrip yang tidak terpakai.
- Kompres dan ubah ukuran gambar. Unggah gambar sesuai lebar tampilan, gunakan format modern seperti WebP bila memungkinkan, dan selalu isi atribut alt.
- Tunda pemuatan gambar di bawah layar dengan atribut loading="lazy", tetapi jangan terapkan pada gambar utama di bagian atas agar LCP tidak memburuk.
- Batasi skrip pihak ketiga. Widget media sosial, penghitung pengunjung, dan efek seperti animasi loading sering kali memperlambat halaman.
- Beri ruang tetap untuk iklan dan gambar dengan lebar dan tinggi yang jelas supaya tata letak tidak meloncat (CLS).
- Ukur secara rutin menggunakan PageSpeed Insights dan laporan Core Web Vitals di Search Console.
Tujuan akhirnya bukan label AMP, melainkan pembaca yang bisa membuka dan membaca artikel kalian dengan cepat dan nyaman di ponsel.
Catat skor PageSpeed Insights dan laporan Core Web Vitals sebelum beralih dari atau ke AMP. Dengan begitu kalian tahu pasti apakah perubahan template benar-benar membuat blog lebih cepat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah AMP masih memengaruhi peringkat di Google?
Tidak secara langsung. Sejak 2021 AMP tidak lagi memberi keuntungan khusus. Yang dinilai adalah pengalaman halaman, termasuk Core Web Vitals, dan yang terpenting tetap kualitas serta relevansi konten.
Apakah AMP sudah dihentikan?
Belum. Proyek AMP masih ada di bawah OpenJS Foundation dan halaman AMP yang valid tetap bisa diindeks. Hanya popularitasnya menurun setelah Google mencabut perlakuan istimewa untuk format ini.
Apakah artikel non-AMP bisa masuk Top Stories?
Bisa. Google menyatakan bahwa sejak pembaruan Page Experience 2021, AMP tidak lagi menjadi syarat untuk tampil di Top Stories, selama konten memenuhi kebijakan Google News.
Jika berhenti memakai AMP, apa yang perlu diperhatikan?
Pastikan alamat artikel tetap sama, versi non-AMP sudah cepat dan responsif, lalu pantau laporan di Google Search Console beberapa minggu setelah perubahan untuk memastikan tidak ada masalah pengindeksan.
Kesimpulan
AMP lahir pada 2015 sebagai jawaban atas web seluler yang lambat, dan sempat menjadi syarat tidak resmi untuk tampil di bagian berita Google. Sejak 2021 keistimewaan itu dicabut, ikon petir dihapus, dan kecepatan dinilai lewat Core Web Vitals yang berlaku untuk semua halaman.
Bagi blog di 2026, AMP adalah pilihan, bukan keharusan. Fokuslah pada konten yang bermanfaat dan template ringan yang lolos Core Web Vitals. Jika template AMP kalian sudah berjalan baik, silakan dipertahankan; jika justru merepotkan, beralih ke template responsif biasa adalah langkah yang wajar.
Komentar
Memuat komentar...
Tulis Komentar
Silakan bertanya atau berbagi pengalaman. Komentar berisi tautan aktif atau promosi akan dihapus.